Kepergian Chester Mengingatkanku Tentang Depresi Yang Kualami

Sumber: newyorker.com

Assalamualaikum.

Salam untuk semua.

Sudah lama saya tidak buka wordpress. Hehehe. Asyik sama kegiatan di rumah sampai lupa kalo punya blog.

Beberapa saat lalu, dunia musik dikejutkan dengan berita kematian Chester Bennington. Sebagai seorang yang memasukkan Linkin Park menjadi salah satu band favorit, tentu saya terkejut. Pagi itu, saya berpikir itu semua hanya mimpi. Tetapi, saya tersadar ketika adik perempuan saya teriak-teriak memanggil saya dengan berkata, “Mbak Ida! Chester Bunuh Diri.”

Seketika aku berpikir. Mengapa dia melakukan itu? Seketika juga aku mengingat-ingat lirik-lirik lagunya Linkin Park yang berisi tentang penderitaan. Okay. Dia benar-benar depresi sejak dahulu kala. Itulah mengapa dia bunuh diri. 

Astaghfirullah.

Aku teringat sebuah kejadian di masa lalu, ketika aku sering menyakiti diri sendiri. Mungkin, tidak banyak orang yang tahu tentang hal ini (bahkan keluargaku). Beberapa teman menganggapku sebagai gadis yang tak punya masalah, ceria, dan terkadang tanpa ekspresi. 

Terima kasih sudah menganggapku seperti itu, tetapi saat itu, aku tidak sekuat seperti yang terlihat.

Aku orang yang mudah tersinggung dan mudah marah. Meskipun aku belum pernah berpikiran untuk bunuh diri, namun aku cukup sering mengepalkan tanganku dan memukulnya ke tembok untuk memindahkan rasa sakit yang ada di hatiku. Terkadang aku juga memukul-mukul wajah atau kepalaku. Aku tidak paham, apakah itu ada hubungannya dengan perundungan yang kualami saat Taman Kanak-Kanak dan SD Kelas 3, dan juga kejadian itu.. Maaf aku tidak bisa mengatakannya. Tetapi, bayang-bayang itu selalu ada di benakku.

Aku juga pernah berdiam diri di kamar, berselimutkan sprei layaknya kepompong, selama seminggu di suatu ramadhan. Saat itu, aku hanya bergerak untuk shalat, dan meminum segelas air putih untuk sahur dan berbuka puasa. Kalian tahu apa yang dilakukan keluargaku? Tidak ada. Mereka tidak melakukan apa-apa. Adik perempuanku dan kakak sepupuku tidak mau sekamar denganku. Adikku berkata aku seperti hantu saat itu.

Beberapa kali aku meminta kepada orangtuaku agar mereka membawaku ke psikolog atau apalah itu. Namun, apa yang keluar dari mulut ibuku sungguh… Yaa silahkan simak sendiri.

“Ngapain ke psikolog? Masih anak-anak juga. Ke psikolog itu kalau stress berat gara-gara thesis, baru lah konsultasi ke psikolog.”

Itu lah. Aku tidak membenci ibuku, aku sangat sayang padanya. Tetapi, terkadang hmmm no comment ahh.

Untuk sekarang aku sedang berjuang dalam mengendalikan diriku. Karena saya Muslimah, saya mencoba untuk memperdalam ilmu agama saya. Juga menghindari pemicu sakit hati dan stress. Alhamdulillah lumayan manjur.

Untuk kalian yang sedang berjuang menghadapi rasa sakit di hati, jika kalian adalah orang yang beragama, aku sarankan, dekatkanlah diri kepada Tuhan. Untuk kalian yang (mungkin) tidak percaya Tuhan, yakinlah bahwa ada yang akan membimbing kita menghilangkan rasa sakit itu. Teruslah cari bantuan.

Dan untuk kalian yang berada di sekitar orang yang terlihat depresi. Jangan jauhi mereka. Ajak mereka berkomunikasi. Obrolan yang baik itu sangat penting untuk membangun pikiran yang positif.

May the force, oops, i mean may the God be with us.

Barokallah.

Sekian.

Semangat ya. ^_^

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Cinta Hitam

Sumber: wallpaper-gallery.net

Ketika kau merasa memiliki perasaan khusus kepada seseorang yang bahkan sudah cukup lama tidak berkomunikasi lagi denganmu. Belum kau lihat rupa tiga dimensinya. Belum kau dengar hela nafasnya. Belum kau hirup wangi feromonnya atau mungkin parfumnya. Feromon mungkin sedikit terlalu vulgar.

Begitu pula…

Belum kau raba indera perabanya. Belum kau dendangkan renyah tawamu, tentu kepadanya. Belum juga kau terawang sorot matanya.

Dan semua sensasi yang kau rasakan dari penjuru panca inderamu hanya bisa kau rasakan lewat bunga tidur yang abstrak. Pulau kapuk. Mimpi saja.

Abstrak namun jelas.

Tidak! Bukan mimpi saja, sensasi ini kau rasakan juga saat kau terjaga! Sensasi yang meliputi kesadaran juga lamunan. Mengcangkup nyata dan fatamorgana.

Pada akhirnya, kau hanya pasrah dan menyerahkan seluruh kekhususan ini kepada Tuhan. Menyerahkan seluruh hati dan perasaan teranehmu padaNya. Hanya padaNya. 

Sang Maha Membolak-Balikan Hati.

Namun, kau serahkan dengan maksud tertentu. Kau ingin Tuhan menjaga “kekhususan” itu untuk sang pujaan yang kau dambakan. Agar kau tak akan merasa “khusus” pada seseorang baru. Agar kau tak jatuh lagi.

Agar kelak di masa depan kau akan dipersatukan dengan sang pujaan hati, melalui kuasa ilahi.

Tetapi,

Apakah benar yang kau lakukan?

Lol. Aku menulis ini setelah aku melihat sinetron Turki berjudul Kara Sevda yang cukup mempengaruhiku secara emosional. Sinetron itu berkisah tentang para tokohnya yang gagal move on dari masa lalu mereka. #explainplotbadly #sinopsisburuk LOL

Sebenarnya, sinetron itu tak terlalu merebut hatiku sih (hanya sebuah sinetron dengan cerita yang biasa saja, konflik orang kaya, kisah cinta dan balas dendam), hanya saja tokoh utama prianya itu lho, Kemal Soydere (diperankan oleh Burak Ozcivit) itu arrrghhhh dia itu arrrghhh tak bisa kudeskripsikan!! #fangirlmodeon #kumat wajahnya terlalu “animated” Masya Allah 😀

Sumber: instagram.com/kara.sevda_official

Dia memang tampan hahahaha 
Tampan doang sih.

Tetapi bukan favoritku.

Engin Akyürek tetap di hati lah (^3^)

Posted in Curhat | Tagged | 2 Comments

Pria Yang Meracun – Bagian 4

Ya, sudah 9 bulan (ibu mengandung) *what??! Aku gagal move on gara-gara lagu (we don’t talk anymore, do i wanna know, cornerstone) payah! salah sendiri kalau dengerin lagu yang temanya orang gagal move on.

Gagal move on dari lamunan sendiri itu…. Sial

Sudah 9 bulan lewat aku tak berbincang, pernah beberapa saat aku tak memikirkannya/ hampir lupa, tetapi apa daya, dia telah meracuni diriku, bisanya menetap di aorta jantungku, menjalar ke saraf otakku, tenggelam bersama tidurku, berenang-renang di mimpiku.. *wtf bahasaku kok jadi ngene..

Iyaaa, tak ada angin tak ada hujan, aku mimpi jadi partnernya (partner sah dan halal). Gila kan? Aku sudah gila.

Dan, sekarang aku lagi suka sama grup vokal dari Italia bernama Il Volo. Disana…. Aku melihat ada salah satu member yang benar-benar mengingatkanku padanya dan aku ngefans berat sama si member ini. Oh No! Suaranya bikin jatuh cinta dan penampilannya mengingatkanku padanya.

Ignazio Boschetto, namanya.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Telepon Penipuan – Bagian 2

source: sanmiguelwritersconference.org

Suatu pagi di tahun 2016, telepon di rumahku berdering. Di rumah hanya ada bapak, ibu, mbak sepupu, dan dua ekor kucing. Aku dan kedua adikku tentu sedang berada di Kota Malang.
Saat telepon berdering, otomatis orang yang terdekat yang menerima panggilan itu. Kebetulan ibuku yang mengangkatnya. (Petunjuk: kebanyakan ibu adalah makhluk paling baper di keluarga manapun).

Ibu: “Halo, Assalamualaikum.”

Anak Palsu: (suara cowok menangis). “Ibu…”

Ibu: “Lhoo, kenapa nak?”

Anak Palsu: “Aku lagi di kantor polisi bu…” (masih menangis)

Ibu: “Lho, Astaghfirullahaladzim! Kenapa nak?”

Anak Palsu: “Tadi malam, temanku ngasih narkoba ke minumanku bu…”

Ibu: “Astaghfirullah nak nak. Makanya to nak, ibu udah sering bilang jangan main sembarangan, terus harus hati-hati sama temannya.”

Oh iya, kebetulan di malam sebelumnya, adikku emang bilang ke orangtua kami kalau dia mau menginap di kos/kontrakan temannya.
Telepon pindah tangan.

Polisi Palsu: “Halo. Selamat Pagi Bu.”

Ibu: “Iya selamat pagi.”

Polisi Palsu: “Ya, begini Bu. Anaknya positif menggunakan narkoba, Bu. Nah ini sementara masih di polres. Tapi Ibu tenang saja, kita bisa jaga anak Ibu supaya tidak diliput oleh wartawan. Tapi ibu harus bayar 30 juta Bu.”

Ibu: “Hah? 30 juta. Uang dari mana Pak? 30 juta itu nggak sedikit lho”

Polisi Palsu: “Ibu tidak ingin keluarganya tercemar kan? Itu buat melindungi anak Ibu dari wartawan.”

Ibu: “Sebentar yaa Pak, bicara sama bapaknya saja. Yang punya uang kan bapaknya…”

Polisi Palsu: “Eh, tidak usah tidak usah. Sama Ibunya saja.”

Disini ibuku mulai sadar kalau ada yang mencurigakan. Di sisi lain, bapakku mencoba menelepon adik laki-laki ku, tetapi entah mengapa nomornya tidak bisa dihubungi.

Lanjut.

Ibu: “Lho Pak, 30 juta itu banyak lho Pak, Saya mana ada uang sebanyak itu.”

Polisi Palsu: “Di rekening masa’ gak ada Bu?”

Ibu: “Ya nggak ada lah. Dikira semua orang kaya gitu.”

Polisi Palsu: “Ya sudah kalau begitu. 10 juta saja.”

Ibu: “Lho, 10 juta itu tidak sedikit lho, Pak.”

Anak Palsu: “Iya bu, bayar aja bu. Ibu nggak sayang sama aku?”

Ibu: “Nak, nak! Kamu kan tahu kalau bapak sama ibu nggak punya uang banyak. Gimana sih!”

Polisi Palsu: “Bagaimana, Bu?”

Ibu: “Tidak semudah itu, Pak. Saya harus ke kantor dulu, tanya teman dulu ada yang mau meminjamkan uang atau tidak. Gitu kan, Pak. Nggak gampang ini.”

Polisi Palsu: “Ya sudah kalau gitu. 5 juta saja.”

Ibu: “Hah? 5 juta? Di rekening saya juga tidak sampai segitu.”

Polisi Palsu: “Ibu sayang nggak sih sama anaknya?!”

Ibu: “Ya sayang, Pak! Tapi kalau bikin salah kayak gitu, biarin aja masuk penjara. Orang bikin salah juga.”

Polisi Palsu: “Lho, gimana sih ibunya ini.”

Lalu bapakku kayaknya gatal ingin ngomong juga.

Bapak: “Halo, Pak. Ini di Polres mana ya?”

Tiba-tiba telepon di tutup.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Rindu Masa Lalu

Source: webneel.com

Bulan lalu, aku datang ke Malang bersama orangtuaku untuk mengambil sepedaku yang menganggur di indekos. Tujuannya, untuk dipinjamkan ke salah satu anak tetangga kami yang butuh sepeda untuk pergi bersekolah. Setelah itu, kami tidak langsung pulang namun berkunjung ke rumah keluarga Pak Mat, yang anaknya akan kami pinjamkan sepeda. Aku bingung saat itu, rumah Pak Mat kan satu gang sama rumah kami, mengapa harus berkunjung dan telepon dulu ketika di perjalanan padahal kabupaten tempat kami tinggal masih jauh. Ternyata oh ternyata, begitu toh. Mereka sudah pindah rumah keluar kota. Hahahahahaha aku kok nggak update blas. Payah.
Pasca kunjungan kami ke rumah baru Pak Mat sekeluarga, aku jadi mengenang kejayaan RT kami di masa lalu. Kami adalah RT paling kompak seperumahan. Memories of the old days make the bittersweet feeling flows to my aorta. 

Yaa, aku juga cenderung membuat diriku lebih introvert dan anti sosial ketika SMA. Bibit2nya dimulai ketika SMP sih. Kalau diajak main sama teman2ku yang tetangga, aku selalu menolak. Lebih memilih nonton sepak bola. Lebih parah lagi ketika Lebaran, aku sama sekali tidak mau ikut berkunjung ke tetangga. Aku masih ingat ketika salah satu temanku yang juga tetanggaku dan juga teman SDku, mengajakku jalan keluar dan aku menolaknya. Aku masih ingat nada suaranya yang sungguh kecewa dan terdengar suara gagang telepon yang ditutup dengan sedikit kesal.

RT kami, dulu adalah RT paling kompak seperumahan. RT kami pernah memenangkan lomba bersih lingkungan sedesa dan sering menjadi juara umum pada lomba 17an yang digelar oleh RW di perumahan. Yang paling aku ingat, ketika RT kami menjuarai lomba sepeda hias. Peserta yang berpartisipasi dari RT kami mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Kompak banget pokoknya. Tanpa melihat latar belakang sosial, ekonomi, ras, dan, agama.

Orang-orang di RT kami juga cukup sering berwisata ke daerah pegunungan. Kadang hanya sehari, kadang juga menginap. Itu adalah momen yang kutunggu-tunggu. Biasanya, salah satu temanku suka memberi bocoran ke aku kalau mau ada rekreasi atau piknik. Biasa, dia suka iseng mencuri dengar percakapan orang tuanya. Hehehe. 

Lalu ada juga kegiatan favorit di RT kami. Pada Sabtu malam, kami biasa nongkrong sambil bakar-bakar jagung atau ikan. Mau yang lebih ekstrim lagi juga ada. Bakar-bakar sate daging kijang. Mendapatkan daging kijangnya juga bukan sembarangan lho, tapi berburu sendiri. Keren dah bapak-bapak di RT kami.

Namun, tahun demi tahun keadaan berubah. Anak-anak seRT yang sering bermain bersama-sama itu pun tumbuh menjadi remaja dan lebih suka melakukan kegiatannya sendiri-sendiri. Ada yang suka pergi keluar perumahan, ada juga yang suka mendekam diri di rumah seperti diriku yang lebih memilih malam mingguan dengan tv. Begitu pula dengan para orangtua. Melihat anak-anaknya jarang bermain bersama membuat orang tua juga malas cangkrukan/ nongkrong/ bakar-bakar jagung atau ikan.

Hmmm. Mengapa aku menyebalkan seperti itu ya? Entah. Yang pasti karena kunjungan ke rumah Pak Mat dan karena beliau menunjukkan foto kenangan masa lalu RT kami yang sungguh-sungguh tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata itu, mungkin aku tidak akan menuliskan ini. Masih teringat kata-kata Pak Mat tentang masa lalu dan hubungan bertetangga yang baik.

“Ini lho yang saya inginkan dari RT kita sekarang. Dekat dan kompak.” (sembari melihat foto RT kami pasca lomba sepeda hias yang penuh kegembiraan itu).

“Yang saya inginkan itu tidak hanya sekedar tetangga, tetapi tetangga yang jauh atau dekat jaraknya, tetap berada di hati. Toh, tidak masalah kan kami pindah, pada akhirnya tempat kembali kita hanya kepada satu hal.” (Saat mengobrol bersama bapakku).

Posted in Cerita | Tagged | Leave a comment

Telepon Penipuan – Bagian 1

sumber: signealethique.com

Kemarin, sekitar waktu shalat Jumat, tepatnya jam 12.07, telepon seluler adikku berdering. Ketika ku lihat di layar hanya tertera nomor tanpa nama. Iseng aja kuangkat.

Tiba-tiba, ada suara seorang lelaki menangis. Kira-kira percakapan di telepon yang terjadi seperti ini:

Aku: “Halo.”

Laki 1: “Halo. (menangis)”

Aku: “Ini siapa?”

Laki 1: “(terisak) Bapak kecelakaan.”

Aku: “Hah?! Kecelakaan?! Sebentar. (Ngecilin volume tv)”

Aku masih bingung, terus melihat jam, masih jam 12an. Bapakku pasti di kantor lagi shalat Jumat. Aku lanjutin ahh, iseng.

Aku: “Lhoo! Kecelakaan di mana? Kok bisa?!” Aku bicara dengan nada keras.

Laki 1: “Di kantor…(terisak)”

Aku: “Apa?!”

Lalu telepon sepertinya di ambil orang lain.

Laki 2: “Halo. Selamat siang, bu. Saya Pak Rudi, dari Polres”

Aku: “Iya, selamat siang.”

Laki 2: “Ini dengan istrinya?”

Aku: “Bukan. Saya anaknya.”

Laki 2: “Bu, sebenarnya ini bukan kecelakaan. Tapi Bapak ini menabrak orang tua. Terus kakinya patah. Ibu gak perlu jemput kesini. Nanti ketahuan”

Aku: “Oh begitu.” (Maksudnya apaan sih, ketahuan siapa?)

Aku: “Terus, terus. Ini lagi dimana?! Disana banyak orang?!” (Dengan nada keras)

Laki 1: “Ini lagi di polres.”

Aku: “Polres mana?!” (Masih nada keras)

Laki 2: “… (Ngomong gak jelas)..”

Aku tidak dengar Pak Laki 2 itu ngomong apa, soalnya aku sambil lihat tv. Karena tidak dengar, jadi aku reflek nyentak gitu.

Aku: “HAH?!”

Laki2: “Ahh, sudah! Ini telepon saya tutup. Anaknya nggak sopan.”

Aku: “Ok.”

Telepon pun ditutup. Jelas itu pasti penipu. Bapakku kan lagi shalat Jumat. Toh, aku dan adikku janjian bertemu sama Bapak setelah shalat Jumat. Jadi aneh aja kalo Bapakku di waktu shalat Jumat berada di jalan. 

Setelah shalat Jumat, adikku menerima telepon dari Bapak dan kitapun janjian di Candi (soalnya barang bapakku ada yang ketinggalan, kebetulan Bapak mau keluar kota)

Jelas telepon tadi dari penipu. 😀

Posted in Uncategorized | 2 Comments

Menunggu

“Berapa lama kau kuat menunggu? Katakan.”

“Menunggu apa?”

“Menungguku.”

“Aku benci menunggu.”

Salah satu hal yang paling tidak kusukai adalah menunggu. Yaa, menunggu adalah hal yang paling menyebalkan di seluruh dunia. Menunggu juga bisa membuat otak panas, migrain, vertigo, gerah hati, sesak nafas dan stress. Itulah efek yang terjadi pada diriku saat sedang menunggu.

Apalagi kalau sedang janjian sama orang dan orang itu gak jelas dimana posisinya, di telepon gak diangkat. Uhh, rasanya ingin loncat ke galaksi sebelah dan mengumpat di sana. Saat ini, aku sedang duduk di sebuah masjid di Jalan Veteran Kota Malang, sedang menunggu seorang teman, yang sepertinya sedang tak sengaja tertidur di kamar kosnya.

Hmm, mungkin aku juga sering membuat temanku yang lain menunggu, makanya aku diberi rintangan seperti ini. Rintangan menunggu. Allah.

Posted in Uncategorized | Leave a comment